Beranda > Info Nasional, Politik > Megawati dan Kontroversi Survei

Megawati dan Kontroversi Survei


VIVAnews – Sepekan terakhir, sejumlah lembaga riset merilis hasil survei mereka soal Pemilu. Baik pemilihan presiden, maupun pemilihan legislatif. Publikasi hasil survei itu dilakukan secara beruntun – Jaringan Suara Indonesia (JSI) pada Minggu 23 Oktober 2011, Reform Institute pada Selasa 25 Oktober 2011, dan Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) pada Rabu 26 Oktober 2011.

Survei JSI menempatkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai kandidat presiden dengan dukungan publik tertinggi, sebesar 19,6 persen, di atas Prabowo Subianto (10,8 persen), Aburizal Bakrie (8,9 persen), Wiranto (7,3 persen), Sri Sultan Hamengkubuwono X (6,5 persen), Hidayat Nur Wahid (3,8 persen), Surya Paloh (2,3 persen), Sri Mulyani (2 persen), Ani Yudhoyono (1,6 persen), Hatta Rajasa (1,6 persen), Anas Urbaningrum (1,5 persen), Sutanto (0,2 persen), dan Djoko Suyanto (0,2 persen).

Jika dalam survei JSI Megawati bertengger di posisi puncak, dalam survei SSS, Megawati justru menjadi kandidat presiden dengan dukungan publik terendah, hanya mencapai 0,3 persen.

Posisi Megawati berdasarkan survei SSS masih di bawah Rizal Ramli, Faisal Basri, Hariman Siregar, Imam Prasodjo dan Emha Ainun Nadjib. Menurut SSS, dukungan bagi Megawati tak ada apa-apanya dibanding Prabowo (28 persen), Mahfud MD (10,6 persen), Sri Mulyani Indrawati (7,4 persen), Aburizal Bakrie (6,8 persen), KH Said Aqil Siradj (6 persen), Din Syamsuddin (5,2 persen), Pramono Edhie Wibowo (4,2 persen), dan Jusuf Kalla (4 persen).

Reform Institute bahkan terang-terangan tidak memasukkan nama Megawati dalam survei mereka dengan alasan, Megawati sudah pernah kalah dua kali dalam pemilu presiden. Survei Reform memunculkan nama kandidat presiden Aburizal Bakrie (13,58 persen), Prabowo Subianto (8,46 persen), Jusuf Kalla (7,06 persen), Hidayat Nurwahid (5,17 persen), dan Ani Yudhoyono (4,13 persen).

Hasil survei yang berbeda-beda ini, sontak membuat PDIP curiga. “Sebagai orang politik, saya bisa merasakan, walau tidak bisa membuktikan. Anda bisa cermati sendiri, kalau disurvei, nama Ibu Megawati pasti tertinggi. Jadi kenapa ada lembaga survei yang merilis hasil surveinya tanpa menyertakan nama Ibu?” kata Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo, Kamis 27 Oktober 2011.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Pusat PDIP, Ribka Tjiptaning, memilih bersikap pasif soal survei-survei tersebut. “Biasalah survei-survei itu, hasilnya bisa apapun. Namanya juga survei buat siapa,” kata Ketua Komisi IX DPR itu.

Megawati pernah menjadi Presiden RI pada periode 2001-2004. Ia merupakan perempuan pertama yang menjadi presiden di negeri ini. Pada Pemilu 2004 dan 2009, Megawati kembali maju sebagai calon presiden. Pada Pemilu 2004 ia menggandeng Hasyim Muzadi sebagai calon wakil presiden, dan pada Pemilu 2009 ia menggandeng Prabowo Subianto.

Namun Mega dikalahkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono pada kedua pemilu itu. Secara teoritis, Mega masih mempunyai kans untuk maju pada Pemilu 2014 mendatang, karena konstitusi membatasi masa jabatan seseorang sebagai presiden untuk dua periode, sementara Mega baru menjabat satu periode. Mega juga masih berpeluang memenangi Pilpres 2014, karena SBY yang notabene ‘musuh bebuyutannya’ tidak mungkin maju lagi pada Pemilu 2014.

Masalahnya, PDIP sendiri belum satu suara dalam menghadapi Pemilu 2014. “PDIP tidak akan memaksa Ibu Mega untuk maju pada Pilpres 2014 kalau menurut survei tidak bagus. Tapi kalau survei bagus, kesehatan oke, dan faktor internal mendukung, maka tak ada alasan untuk tidak maju,” kata Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait.

Di sisi lain, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP yang juga suami Mega, Taufiq Kiemas, justru mengimbau Mega tidak maju lagi pada Pemilu 2014. Faktor usia yang tak lagi muda, menjadi alasan Kiemas membujuk Mega untuk menyiapkan kader yang lebih muda di 2014. “Lebih baik Ibu mikir dulu untuk maju ke depan, sebab usianya mulai 68 tahun. Lebih baik kaderisasi,” kata Kiemas.

Pengamat politik Ari Dwipayana menilai, elektabilitas Megawati masih tetap tertinggi setelah SBY “Karakteristik pemilih Mega dan PDIP itu paling loyal. Oleh karena itu, ia pun mempertanyakan hasil survei tertentu yang ‘membenamkan’ nama Mega di urutan terbawah. Menurutnya, aneh bila elektabilitas PDIP mencapai belasan persen, sementara elektabilitas Mega tidak sampai satu persen.
• VIVAnews

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: